Tampilkan postingan dengan label Bayi Usia 1 Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayi Usia 1 Bulan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

, , , ,

Bayi Baru Bisa Bedakan Wajah Manusia & Monyet di Usia 6 Bulan



Bayi yang baru lahir tidak dapat melihat dengan jelas, bahkan hampir buta. Baru pada usia 4 minggu mata bayi mulai belajar mendeteksi di satu lokasi dengan cara berkedip. Karena matanya belum bisa jelas membedakan obyek, baru pada usia 6 bulan bayi mulai belajar membedakan wajah manusia dan monyet.

Sejak lahir, bayi biasanya tertarik pada wajah yang ditemuinya. Bayi cenderung melihat semua hal dalam bentuk bulat yang memiliki 2 mata dan 1 mulut di tempat yang tepat.

Tapi bayi belum dapat melihat dengan jelas, sehingga hanya dapat melihat dengan samar-samar. Baru ketika sudah memasuki usia 4-5 bulan, preferensi bayi lebih nyata, dan bayi telah mulai untuk memproses wajah berbeda dari objek lain.

Seperti dikutip dari CNNHealth, Rabu (21/9/2011), sensor terbaik dari sistem penglihatan bayi adalah sensor gerak. Sensor gerak pada sistem penglihatan bayi, merupakan sensor yang berkembang lebih awal.

Pada usia 4 minggu, bayi dapat mendeteksi stimulus berkedip dalam satu lokasi hampir sebaik orang dewasa. Lalu sekitar usia 7 minggu, bayi dapat membedakan arah gerakan dan perkembangan semakin cepat ketika usia 20 minggu.

Penglihatan gerak bayi yang dilihatnya seperti tetesan air hujan melalui kaca depan mobil yang bergerak, akan meningkat pesat antara usia 3-5 bulan dan kemudian terus berkembang perlahan-lahan hingga melalui tengah masa kanak-kanak.

Saat bayi usia 4-5 bulan, ia mulai belajar pematangan area wajah fusiform, sebuah daerah di korteks temporal khusus untuk pengolahan wajah. Hal ini memungkinkan spesialisasi otak orang dewasa biasa dapat mengalahkan program terbaik di dunia komputer dalam mendeteksi perbedaan halus antara wajah.

Area wajah fusiform mulai diaktifkan oleh wajah-wajah yang sudah sering dijumpai bayi saat memasuki usia 2 bulan. Pengalaman visual mempengaruhi perkembangan wajah yang dimulai pada masa bayi.

Ketika usia 6 bulan bayi mulai membedakan antara monyet dan manusia meskipun masih belum jelas. Baru ketika bayi sudah berusia 9 bulan, akan menjadi lebih baik dalam mengidentifikasi orang dan kehilangan kemampuan untuk mengenali wajah monyet.

Selama periode ini, bayi juga menjadi lebih baik dalam membedakan wajah-wajah dalam kelompok ras sendiri daripada dalam kelompok-kelompok ras lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena sebagian besar bayi memiliki lebih banyak pengalaman visual dengan kelompok ras mereka sendiri dibandingkan ras yang lain. Proses ini mungkin melibatkan proses menyempurnakan koneksi sinaptik oleh pengalaman untuk menyempurnakan persepsi dengan karakteristik lingkungan setempat.

Pengalaman penglihatan bayi ini dalam pengolahan gerak adalah yang paling rentan mengalami gangguan. Aspek pengolahan gerak dapat terganggu dalam beberapa gangguan perkembangan, termasuk disleksia, autisme, fragile-X syndrome, dan sindrom Williams.

Anak-anak yang mengalami masalah penglihatan seperti katarak sejak lahir akan memiliki perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan bayi normal. Kondisi tersebut menyebabkan sistem penglihatan bayi tidak dapat berkembang seperti kondisi normal. Bahkan hingga usia 9 bulan, bayi yang terlahir dengan katarak belum dapat melihat seperti bayi normal lainnya.

Dengan pengalaman visual yang dialami bayi, dapat menunjang perkembangan ketajaman penglihatan bayi yang kian meningkat. Tetapi pada usia 3-8 bulan pertama bayi memiliki ketajaman penglihatan kira-kira 3 kali lebih buruk dibandingkan bayi pada usia 5 tahun yang normal.

Persepsi gerak global dipengaruhi oleh katarak hanya dalam 3 bulan pertama kehidupan. Jadi perkembangan ketajaman penglihatan bayi, akan tetap berjalan baik. Namun orang tua perlu berhati-hati untuk kasus-kasus yang luar biasa, yang biasanya memerlukan perhatian lebih lanjut.

Rabu, 27 Juli 2011

, , ,

Apa Sih yang Ada di Pikiran Bayi?


Anda mungkin pernah bertanya-tanya apa sih yang ada di dalam pikiran bayi Anda? Apakah sama dengan yang Anda pikirkan? Atau ia malah tidak berpikir apa-apa? Yah siapa yang tahu?

Ada kok yang tahu, adalah dokter Alison Gopnik, penulis dari buku The Philosophical Baby, yang mencoba belajar dan mengamati perkembangan bayi. Dan menurut penelitian yang dilakukan, sesuai dilansir oleh Redbookmag, Gopnik menemukan bahwa bayi dan balita bahkan lebih suka belajar dan memiliki pengalaman lebih banyak daripada kita yang telah dewasa.

Apakah benar si kecil sudah bisa berpikir seperti kita?

Secara kompleks sih tidak, namun menurut Gopnik, mereka sudah tahu bahwa manusia punya keinginan dan tujuan. Hal ini dijelaskan melalui tingkah laku bayi yang melihat pada suatu benda dan ingin Anda mengambilkannya untuknya.

"Michele tiba-tiba menunjuk-nunjuk boneka beruang yang dibelikan ayahnya, dan mengeluarkan suara 'eem...eem..' tandanya ia minta diambilkan boneka itu," Fanny, 29 tahun, ibu rumah tangga

Nah begitulah yang ditunjukkan si kecil, bahkan saat ia masih bayipun, ia bisa berpikir dan menginginkan sesuatu. Ia akan menyusun strategi supaya sesuatu itu sampai di tangannya. Dan karena fisiknya masih belum kuat, maka ia meminta kita yang mengambilkannya untuknya.

Kok ngomong sendiri? Apa dia sedang melihat hantu?

Bukan hantu yang dilihatnya tatkala dia senyum-senyum atau terbahak-bahak saat menatap tembok kamarnya. Namun di dalam benaknya ia berimajinasi tentang sosok orang yang menemaninya.

Sampai usia 4-5 tahun, mereka bahkan mempertahankan khayalannya itu, tetapi tahukah Anda bahwa mereka tahu itu hanya khayalan?

Anda mungkin berpikir itu adalah hantu nenek moyang atau apa, tetapi mereka tahu jelas bahwa itu hanya bayangan mereka saja.

Ribuan bintang layaknya ribuan pertanyaan di benak mereka

Anda mungkin jengkel tatkala si kecil mulai banyak bertanya, tetapi bahkan gadis cilik usia 3 tahun Anda memiliki rasa keingintahuan yang amat sangat besar sekali, bahkan melebihi para ilmuwan tatkala menemukan objek penelitian.

Tak heran jika tangannya yang usil menjelajah ke mana-mana saat ia sudah bisa merangkak. Ia juga ingin tahu bagaimana rasa benda yang ada di depannya, untuk itulah bayi suka menjilat benda-benda di sekelilingnya.

Anak Anda cerdas bukan? Ya, anak-anak sangat cerdas sekali, untuk itu berikan mereka perhatian, kasih sayang dan nutrisi yang cukup, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa.

Minggu, 24 Juli 2011

, ,

Curigai Bayi yang Kuning Lebih dari 2 Minggu


Bayi yang dilahirkan dengan kulit menguning biasanya akan normal dengan cara dijemur. Tapi jika bayi kuning tak kunjung hilang hingga 2 minggu meskipun sudah dijemur, kondisi ini bisa dicurigai sebagai atresia bilier.

Atresia bilier adalah penyakit pada bayi yang menyebabkan saluran empedu menjadi buntu, hal ini membuat hati tidak mampu mengalirkan empedu ke dalam usus 12 jari. Akibatnya empedu akan terbendung di dalam hati dan menyebabkan kerusakan hati yang dapat berujung pada gagal hati. Gejala ini sudah dapat terlihat sebelum bayi berusia 1 tahun.

Bayi dengan atresia bilier akan memiliki kulit dan mata yang menguning. Pada awalnya warna kulit tidak terlalu mencolok, sehingga sering diabaikan dan hanya dijemur-jemur saja. Tapi jika sudah 2 minggu masih tetap kuning, perlu dicurigai sebagai atresia bilier.

“Jangan biarkan bayi kuning lebih dari usia 2 minggu dan jangan terus menjemur, tapi segeralah bawa ke tenaga medis, dokter atau rumah sakit,” ujar DR Dr Hanifah Oswari, SpA(K) dalam acara peresmian Yayasan Bilqis Sehati di gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (16/9/2010).

Gejala lain yang muncul atau cukup mencolok adalah bayi memiliki urine berwarna pekat dan juga warna tinjanya yang pucat atau putih (seperti dempul). Hal ini disebabkan penderita atresia bilier tidak memiliki empedu, karena warna tinja ditentukan oleh adanya empedu (bilirubin) dalam tinja.

Dr Hanifah menuturkan bayi dengan atresia bilier bila tidak ditangani akan mengalami kerusakan hati yang berat (sirosis hati) dalam waktu 2 bulan saja. Kerusakan ini akan sangat hebat dan cepat, sehingga bayi atresia bilier yang tidak mendapatkan pertolongan medis pada umumnya akan meninggal di usia 1-2 tahun.

Atresia bilier terjadi pada 1 banding 10.000 sampai 15.000 bayi lahir hidup. Jika angka kelahiran hidup di Indonesia mencapai 4,5 juta per tahun, maka diprediksi bayi yang menderita atresia bilier mencapai 300-450 bayi setiap tahun.

“Di Jakarta sendiri diperkirakan setiap tahunnya ada 23 bayi yang menderita atresia bilier, tapi kemungkinan jumlahnya lebih besar dari itu karena ada juga yang tidak sampai ke rumah sakit,” ungkap konsultan gastroenterologi-hepatologi anak FKUI/RSCM.

Dr Hanifah menambahkan hingga saat ini para ahli dari seluruh dunia masih mencari tahu apa penyebab dari atresia bilier ini, karena beberapa bayi ada yang dilahirkan bagus tapi lama kelamaan terjadi gangguan di saluran empedunya.

“Atresia bilier adalah satu-satunya penyakit hati yang bisa menyebabkan sirosis hati pada anak dengan sangat cepat, karena pada usia bayi 2 bulan sudah terlihat tanda-tanda sirosis. Karena itu lakukan kontrol pertama saat bayi berusia 2 minggu dan saat imunisasi, sehingga atresia bilier bisa dideteksi lebih dini,” ujar dokter yang berpraktik di RSCM ini.