Tampilkan postingan dengan label Perawatan Bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perawatan Bayi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

, , , , ,

Melindungi Bayi Sebaiknya Tidak Ekstrim



Para ibu selalu mensterilkan botol susu, menggunakan sabun anti bakteri, pembersih, dan akan melakukan apapun demi kesehatan buah hati. Sayangnya, pada waktu bersamaan, jumlah anak yang menderita alergi bukannya menurun malah meroket jika dibandingkan 30-40 tahun silam. Mengapa bisa demikian? Apakah ada kemungkinan hal ini dikarenakan kita terlalu ekstrim dalam melindungi anak?

Cara kerja imun bayi

Perlu ibu ketahui, agar dapat berkembang maksimal, sistem imun buah hati (sayangnya) perlu berlatih 'memerangi' kuman. Bayi yang baru lahir memang mendapat perlindungan dari ASI yang ibu berikan, namun ASI sendiri takkan mampu melindunginya dari semua jenis bakteri/ kuman penyakit.

Ketika sistem imun bertemu dengan bakteri yang belum pernah dihadapinya sebelumnya, maka imun tersebut akan mengirim antibodi untuk melawan bakteri. Kadang bakterilah yang menang dan anak jadi sakit, mungkin demam atau batuk. Namun setidaknya dari pengalaman tersebut, sistem imun sudah 'merekam' si bakteri, dan lain hari saat bakteri itu menyerang lagi, maka sistem imun sudah lebih siap menghadapinya.

Suntikan imunisasi juga bekerja dengan prinsip yang sama, memperkenalkan jenis bakteri/ kuman dengan sistem imun sehingga imun bisa siap menghadapi serbuan kuman yang lebih besar nantinya. Melihat cara kerja sistem imun di atas, boleh dikata bahwa perlindungan yang terlalu ekstrim justru hanya akan melemahkan daya tahan tubuh anak.

Lalu, bagaimana cara melindungi bayi dengan sewajarnya?

1. Cuci tangan. Seiring bertumbuhnya buah hati, ajari ia untuk melakukannya juga, terutama setelah dari WC atau sebelum makan.

2. Tetap sterilkan botol susu dan pentilnya. Susu merupakan sarang bakteri yang bisa menyebabkan timbulnya radang lambung dan usus. Selalu buang susu tersisa, tak perlu memanaskannya ulang karena bisa memicu pertumbuhan bakteri.

3. Bersihkan area pantat secara teratur untuk mencegah timbulnya ruam dan infeksi akibat pemakaian popok. Untuk bayi perempuan, cara membersihkannya adalah dari depan ke belakang.

4. Hati-hati terhadap makanan. Biarkan makanan beku hingga kembali ke suhu kamar sebelum diolah. Ibu juga perlu mewaspadai pengolahan telur, selalu masak telur hingga matang untuk menghindari infeksi bakteri salmonella. Sedapat mungkin jauhkan telur mentah dalam kulkas dari makanan lainnya. Jika ibu memanaskan ulang makanan (lakukan hanya sekali saja), panasi dengan temperatur tinggi, dan biarkan makanan hingga benar-benar dingin sebelum disimpan dengan wadah di dalam kulkas.

Sabtu, 17 September 2011

, , ,

Tips Memandikan Bayi



Memandikan bayi adalah pengalaman yang paling menyenangkan saat menjadi ibu. Berikut adalah tips memandikan bayi bagi ibu pemula seperti Anda.

Sekalipun bayi tak banyak beraktivitas dan mengeluarkan keringat, tetap saja bayi harus dimandikan setiap hari. Debu, kotoran dan bakteri masih tetap berkembang dan akan mengganggu si buah hati kita. Entah lewat mainannya, bantalnya, tempat tidurnya atau terbawa udara.

Menjadi ibu muda merupakan tantangan bagi kita yang tak mudah dilewati. Karena baru anak pertama, tentunya tak banyak info yang kita ketahui tentang memandikan bayi. Jadi bagaimana sih memandikan bayi yang benar?

Air mandi
  • Siapkan air mandi untuk si buah hati di dalam bak mandi yang aman, letakkan pula handuk kering di samping bak tersebut
  • Jangan menggunakan air panas kecuali memang udara sangat dingin, sebaiknya gunakan saja air hangat
  • Letakkan bayi di atas alas mandi saat menyekanya dengan sabun mandi (sebaiknya dibantu dengan washlap)
  • Seka dengan handuk kecil yang sudah dibasahi sebelum badan bayi dibilas dengan air hangat

Sabun mandi
  • Selalu gunakan sabun bayi yang halus dan formulanya memang diciptakan khusus untuk kulit bayi yang cenderung sensitif
  • Busakan sabun dengan tangan Anda, dan jangan langsung dibusakan pada tubuh bayi
  • Selalu bilas dan cek lagi pada setiap lipatan tubuh bayi agar sabun benar-benar sudah bersih dari si buah hati

Minyak kayu putih, lotion atau bedak?
  • Minyak kayu putih boleh dipergunakan jika si bayi sudah berumur di atas 8 bulan. Gunakan sedikit mungkin karena kulit bayi sangat sensitif dan mudah iritasi. Kandungan murni minyak kayu putih terkadang membuat kulit menjadi kemerahan dan nyeri
  • Hindari menaburkan bedak di area vital bayi, karena saat bayi bergerak dan berkeringat, maka bedak akan bercampur dengan keringat. Di situlah kemudian bakteri akan berkembang biak dengan subur, apalagi jika bayi jarang dimandikan
  • Berikan lotion hanya apabila udara sangat panas, karena pada umumnya cuaca dan udara di Indonesia relatif cukup lembab
  • Aplikasikan bedak di tempat-tempat yang terbuka, seperti leher, ketiak punggung dan dada. Namun selalu seka dengan handuk saat ia mandi agar sisa bedak tidak tertinggal
  • Cologne dan wewangian bukanlah hal yang primer bagi si bayi, untuk itu berikan saja pada mereka apabila mereka cukup dewasa

Nah sekarang si kecil sudah bersih dan wangi, jangan lupa berikan pelukan dan ciuman hangat kepadanya.

Jumat, 16 September 2011

, , ,

Cara Menghilangkan Kerak di Kepala Bayi



Bayi sering terlihat seperti memiliki ketombe atau disebut dengan kerak di kepala (cradle cap). Meski hal ini sangat umum dijumpai, tapi bisa mengganggu penampilan si bayi. Bagaimana mengatasinya?

Kerak di kepala yang terjadi pada bayi akan terlihat seperti kulit mengelupas, kulit kering, ketombe, terkadang kulit menebal, berminyak, terjadi pengerasan kulit dan berwarna coklat atau kekuningan.

Kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya dan paling sering muncul dalam beberapa bulan pertama kehidupan. Kondisi kerak di kepala biasanya akan hilang sendiri pada usia 6-12 bulan, meskipun beberapa bayi tetap memiliki kerak kepala hingga usia beberapa tahun.

Saat ini tidak diketahui dengan pasti apa penyabab dari kerak di kepala bayi. Tapi beberapa ahli percaya bahwa hormon yang diterima bayi dari ibunya diakhir kehamilan terlalu berlebihan sehingga mengakibatkan kondisi tersebut. Namun belum ada kesepakatan mengenai penyebab yang sebenarnya.

Satu hal yang pasti kondisi ini tidak menular dan mungkin tidak akan mengganggu bayi kecuali sudah parah dan menimbulkan gatal.

Sebenarnya tidak ada perlakuan khusus untuk menghilangkan kerak di kepala. Tapi jika mulai mengganggu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya, seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (19/5/2010), yaitu:


  1. Cobalah keramas lebih sering dengan menggunakan shampo yang lembut sambil menggosok lembut kulit kepala bayi, setelah itu bilas dengan air hangat hingga bersih dan tidak ada sisa shampo yang menempel di kepala.
  2. Setelah dicuci dengan shampo, sikat dengan lembut kepala bayi atau menggunakan handuk untuk menghilangkan kerak ringan yang menempel di kepala.
  3. Untuk menghilangkan kerak kepala yang keras, cobalah gunakan minyak zaitun, minyak almond atau baby oil untuk membantu melepaskan kerak yang menempel. Setelah dipijat dengan minyak dibiarkan selama 15 menit, kemudian sisir dengan lembut untuk mengeluarkan kerak-kerak tersebut.
  4. Pastikan untuk tidak meninggalkan minyak terlalu lama di kepala, karena bisa menyumbat pori-pori dan membuat kerak tetap ada serta sulit dihilangkan.
  5. Jika kerak tak kunjung hilang, cobalah untuk menggunakan shampo khusus bayi yang mengandung asam salisilat dan coal tar.
  6. Jangan pernah sekali-kali menghilangkan kerak dengan cara mengelupasnya menggunakan kuku, karena bisa menyebabkan luka di kulit kepala dan infeksi.

Jika kerak di kepala tak juga membaik setelah melakukan perawatan selama beberapa minggu, keraknya menyebar ke daerah lain atau menjadi berwarna merah, maka segera konsultasikan dengan dokter untuk mencegah penyebaran.

Jika kondisi yang sama terlihat di sekitar telinga, alis, ketiak atau lipatan lainnya, maka kondisi ini disebut dengan dermatitis seboroik.

Namun jika kerak di kepala sudah benar-benar hilang, maka usahakan untuk mencegahnya agar tidak datang kembali. Usahakan untuk tidak berlebihan dalam memberikan shampo pada bayi, karena hal ini dapat merangsang kelenjar minyak, serta membilas shampo atau minyak di kepala hingga bersih sehingga pori-pori kepalanya tidak tertutup.

Minggu, 28 Agustus 2011

, , , ,

Hati-hati Terhadap Kejamnya Kereta Dorong Bayi



Menurut ahli kesehatan anak terkemuka asal Australia, ibu yang menggendong bayi menghadap ke depan dinilai kejam dan egois. Begitu juga dengan yang menaruh bayi di kereta dorong yang menghadap jauh dari orang tua.

Cathrine Fowler, seorang profesor keperawatan anak dan kesehatan keluarga, mengklaim anak-anak akan ketakutan jika dibawa dalam gendongan atau didorong di kereta bayi tanpa terlihat dari orang tua.

"Bayangkan jika Anda sendiri diikat ke dada seseorang dengan kaki dan tangan menggapai-gapai, tanpa kontrol ke dalam satu pusat perbelanjaan yang padat, itu pastinya akan menakutkan," kata Profesor Fowler seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (22/8). Maka itulah ia menyimpulkan menggendong bayi menghadap depan akan menciptakan situasi yang sangat stress bagi anak.

Komentar Profesor Fowler itu tak hanya diterapkan untuk bayi yang baru lahir, tetapi juga anak-anak sampai usia satu tahun.

Komentar itu dilontarkannya berdasarkan studi pada 2008 yang menemukan bahwa bayi akan menderita bila mereka tal dapat melihat orang tua mereka saat berada di dalam kereta dorong. Dalam penelitian oleh University of Dundee itu, akademisi menemukan bahwa kereta bayi yang menghadapi ke depan bisa membuat anak menjadi mudah cemas saat dewasa. Anak-anak akan merasa sulit mendapatkan perhatian orang tua mereka. Sebaliknya, metode tradisional dengan menggunakan kereta bayi yang menghadap orang tua membuat bayi akan lebih mungkin untuk tertawa, mendengarkan ibu mereka berbicara, dan mudah tidur. Itu otomatis yang menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah.

Rabu, 24 Agustus 2011

, ,

Bayi Prematur Sebaiknya Dirawat di Rumah?



Adakah anda salah satu orang tua yang sedang menunggu kelahiran buah hati anda? Dalam kelahiran bayi ada dua kondisi, normal dan prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kandungan kurang dari 36 minggu, biasanya umur kandungan pada ibu yang melahirkan secara normal sekitar 40 minggu. Kelahiran prematur sangat dihindari karena memiliki dampak yang cukup besar pada buah hati.

Organ pada bayi prematur masih sangat lemah, baik organ dalam seperti paru-paru dan jantung maupun organ bagian luar. Hal ini disebabkan karena pada bayi prematur masa berkembang bayi di rahim ibu kurang.

  1. Bayi yang lahir prematur membutuhkan perawatan yang lebih intensif dari pada bayi yang lahir secara normal. Beberapa hal yang harus diperhatikan apabila kita merawat bayi prematur di rumah.

  2. Nutrisi yang diberikan harus lebih banyak dari bayi cukup umur biasa. Terutama pemberian ASI

  3. Bila bayi belum memiliki reflek menelan yang baik, maka nutrisi dapat diberikan lewat selang.

  4. Pada bayi yang berumur kurang dari 34 minggu perlu dipasang alat pantau pernafasan untuk mencegah penghentian nafas secara sejenak atau sering disebut apnea.

  5. Menjaga kualitas tidur bayi.

  6. Bila ingin memberikan susu formula pengganti ASI pada bayi, konsultasikan pada dokter karena apabila salah memberikan susu pada bayi dapat berakibat fatal. Bayi terlihat gemuk akan tetapi tulangnya keropos.

  7. Terus konsultasi pada dokter spesialis perkembangan yang terjadi.

Tentunya semua orang tua tidak menginginkan bayi mereka lahir prematur. Resiko bayi prematur sangat mungkin dihindarkan. Usahakan bagi para ibu sering makan sayur dan buah. Kondisi kejiwaan ibu juga sangat berpengaruh pada kelahiran. tekanan, gelisah, rasa kurang bahagia dan kecemasan dapat menjadi pemicu bayi lahir prematur.

Walaupun saat ini penanganan bayi prematur di rumah sakit sudah sangat baik, diharapkan para ibu tetap menjaga kandungan agar anak tidak lahir secara prematur. Dalam perawatan bayi prematur di rumahpun haruslah sangat hati-hati. Kondisi bayi prematur yang masih rentan yang harus terus dipantau.

Selasa, 26 Juli 2011

, ,

Penyebab Rambut Rontok Pada Bayi


Masalah rambut rontok sepertinya bukan masalah orang dewasa saja. Bayi baru lahir ternyata juga bisa mengalami hal serupa. Namun Anda harus tahu, bahwa rambut rontok pada bayi umumnya normal.

Bayi cenderung kehilangan rambut mereka di awal kehidupannya. Seperti halnya pada orang dewasa, rambut bayi juga mengalami masa pertumbuhan dan istirahat. Dalam kasus bayi baru lahir semua folikel rambut memasuki masa istirahat pada waktu yang sama. Namun ada kondisi tertentu yang dapat menyebabkan kerontokan rambut pada bayi baru lahir.

Mau tahu penyebab rambut rontok pada bayi?

* Tinea capitis, umumnya dikenal sebagai kurap pada kulit kepala dan merupakan infeksi jamur yang sering terlihat pada anak-anak. Hal ini terlihat seperti bercak bersisik dan mungkin terlihat seperti titik-titik hitam di kulit kepala.

* Alopecia Areata, ini adalah suatu kondisi yang menyebabkan rambut rontok diduga disebabkan serangan sistem kekebalan pada folikel rambut.

* Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari dorongan yang kuat untuk menarik-narik rambut. Trikotilomania merupakan suatu perilaku kompulsif, yang mungkin berasal dari adanya stres emosional maupun stres fisik.

* Posisi tidur. Tidur dalam posisi yang sama selama beberapa jam pada suatu waktu juga dapat menjadi salah satu penyebab hilangnya rambut bayi.

* Stres, demam dan perubahan hormonal. Sekitar 5 sampai 15 persen dari rambut di kulit kepala biasanya akan mengalami fase istirahat pada satu waktu. Namun stres, demam atau perubahan hormon dapat menyebabkan sejumlah besar rambut berhenti tumbuh sekaligus. Penanggalan rambut pada bayi umumnya dimulai ketika memasuki tahap pertumbuhan yakni sekitar usia tiga bulan.

* Kekurangan gizi: Vitamin H atau biotin adalah salah satu vitamin B kompleks yang membantu tubuh untuk mengubah karbohidrat menjadi glukosa untuk bahan bakar tubuh. Zinc, mineral penting, yang terlibat dalam berbagai aspek metabolisme seluler. Ini juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan rambut bayi selama kehamilan, masa kanak-kanak dan remaja.

* Masalah Endokrin: Pada beberapa anak, penyebab kerontokan rambut disebabkan oleh hipotiroidisme. Suatu kondisi dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan rendahnya jumlah hormon tiroid untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

Untuk mengatasi masalah rambut rontok pada bayi, Anda bisa menyiasatinya dengan berbagai cara berikut ini:

* Gunakan bantal pada bayi Anda dengan bentuk tapal kuda.

* Pijat dengan minyak. Memijat kepala bayi Anda dengan minyak tidak mencegah rambut rontok, tetapi dapat membantu dalam sirkulasi darah di kulit kepalanya.

* Cukur. Mencukur rambut bayi tidak berarti ada jaminan rambut tumbuh lebih tebal atau berkurang kerontokannya. Tetapi dengan mencukur rambut setidaknya ada kemungkinan tidak memiliki rambut rontok sama sekali.

* Jika mungkin Anda bisa mencoba untuk mengubah posisi tidur bayi setelah beberapa waktu.

* Jika kerontokan rambut bayi Anda masih berlanjut, lebih baik konsultasikan ke dokter anak dan biarkan dokter yang menanganinya.

Minggu, 24 Juli 2011

,

6 Kebiasaan Pemicu Ruam Popok


Kulit bayi yang sensitif membutuhkan perawatan yang tepat. Sejumlah kebiasaan di rumah kerapkali menyebabkan berbagai masalah kulit pada bayi, mulai iritasi ringan hingga terinfeksi jamur dan bakteri, termasuk masalah ruam popok yang dialami satu dari tiga bayi di Indonesia.

"Ruam popok disebabkan infeksi jamur dan bakteri. Bayi yang menggunakan popok kain maupun popok sekali pakai bisa mengalami ruam popok jika terinfeksi jamur dan bakteri akibat kebiasaan yang salah. Hal itu terutama karena kebersihan di area yang ditutupi popok tidak terjaga dengan baik. Jamur tumbuh tidak normal jika kebersihan di area yang ditutupi popok tidak terjaga," ujar dr Stephani Dewi dari Jansen-Cilag, saat talkshow di acara "Family Health Expo" diadakan Tabloid Gaya Hidup Sehat di Atrium Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (9/7/2011).

Sejumlah kebiasaan salah yang memicu ruam popok di antaranya:

1. Asal membersihkan. Tak terjaganya kebersihan memengaruhi tumbuhnya jamur dan bakteri di area yang ditutupi popok. Pastikan Anda membersihkan dengan sempurna area yang ditutupi popok dari urine maupun setelah bayi buang air besar. Jangan asal membuang atau mengganti popok. Pastikan area yang ditutupi popok bersih dari kotoran.

2. Lalai ganti popok.
Tak perlu menunggu popok penuh untuk menggantinya dengan yang baru. Saat bayi rewel atau menangis, jangan hanya berpikir ia sedang lapar atau haus. Cek juga popoknya. Bisa jadi ia sudah tak nyaman dengan popok yang basah atau penuh.

3. Lembab dan basah
. Sebelum memakaikan popok baru, pastikan area yang ditutupi popok kering. Setiap kali sehabis mandi, atau seusai membersihkan area yang ditutupi popok, pastikan area ini benar-benar kering. Jika area ini masih basah, atau bahkan lembab sekalipun, jangan langsung memakaikan popok.

4. Pakai tisu basah. Tisu basah memang praktis, terutama saat sedang bepergian bersama bayi. Jika harus menggunakan tisu basah untuk membersihkan area yang ditutupi popok, sebaiknya lap sampai kering setelahnya.

"Pada bayi yang kulitnya lebih sensitif, tisu basah menyebabkan alergi. Kalaupun menggunakan tisu basah, pastikan mengelap kering setelahnya agar area yang ditutupi popok tidak basah dan lembab," ujarnya.

5. Mencuci popok kain dengan pewangi dan pelembut pakaian. Khusus pengguna popok kain, sebaiknya hindari penggunaan pewangi atau pelembut pakaian saat mencuci popok kain.

"Hindari mencuci popok kain menggunakan pewangi dan pelembut pakaian. Pewangi dan pelembut pakaian bisa menyebabkan alergi pada kulit bayi yang sensitif," katanya.

6. Bedak menggumpal. Pemakaian bedak terlalu tebal di area yang ditutupi popok bisa memicu ruam popok. Apalagi, jika bedak ini bercampur dengan air dan menggumpal. Penggumpalan bedak ini memengaruhi kelembaban kulit bayi. Sebaiknya, gunakan bedak tipis-tipis pada kulit bayi dengan cara menepuk-nepuk saja.

"Menggunakan bedak dengan cara menggesek kulit bayi bisa menyebabkan iritasi. Iritasi pada kulit bayi ini menjadi cikal-bakal infeksi jamur dan bakteri, termasuk menyebabkan ruam popok," tutur dr Stephani
, ,

Tindakan Dini Atasi Ruam Popok


Perawatan kulit bayi yang keliru menyebabkan terjadinya infeksi jamur dan bakteri pada area yang ditutup popok. Inilah sebab ruam popok sering kali terjadi berulang. Begitu kulit bayi mengalami iritasi, segera lakukan tindakan dini.

Tanda kemerahan pada area yang ditutupi popok dan bayi rewel karena iritasi kulit yang bikin gatal bisa menjadi pertanda terjadinya ruam popok. Jika bayi Anda mengalami hal ini, segera periksa kulit di area yang ditutupi popok tersebut. Ruam popok bisa berawal dari iritasi kulit yang kemudian memicu infeksi jamur dan bakteri. Segera atasi iritasi kulit pada bayi untuk menghindari risiko lebih lanjut dari ruam popok.

"Jika kulit bayi pada area yang ditutupi popok mengalami iritasi, bisa dikatakan 70 persen kemungkinan kulit bayi juga terinfeksi jamur dan bakteri, atau mengalami ruam popok," ujar dr Stephani Dewi dari Jansen-Cilag, kepada Kompas Female di sela acara "Family Health Expo" yang diadakan Tabloid Gaya Hidup Sehat, di Atrium Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (9/7/2011).

Rendam dengan hangat
Jika kulit bayi di area yang ditutupi popok mengalami iritasi, tindakan yang bisa Anda lakukan di rumah adalah merendam area tersebut dengan air hangat selama 10-15 menit, dua kali dalam sehari.

"Iritasi biasa bisa diatasi dengan merendam area yang ditutupi popok dengan air hangat. Saat mandi pagi dan sore hari, rendam area tersebut di air hangat selama 10-15 menit. Lihat perkembangannya dalam tiga hari. Jika tidak mengalami perubahan, artinya kulit bayi sudah terinfeksi jamur dan bakteri atau mengalami ruam popok," kata dr Stephani.

Selanjutnya, Anda bisa memberikan obat atau krim untuk mengatasi ruam popok yang banyak tersedia di apotek. Namun, jika dalam 2-3 hari ruam popok tak juga membaik dengan cara ini, sebaiknya segera temui dokter.

"Sebaiknya, begitu bayi positif terdeteksi ruam popok, langsung saja temui dokter. Pengobatan yang tepat bisa mengurangi rasa gatal, bayi juga berkurang rewelnya, meski ruam popok tak langsung hilang," saran dr Stephani.

Ruam popok biasanya banyak dialami bayi usia 9-12 bulan, terutama saat bayi mulai mengasup makanan padat pendamping ASI. Perubahan pola makan memengaruhi pola pencernaan bayi. Biasanya bayi mengalami diare. Nah, perawatan kulit bayi yang tak higienis dan kebiasaan yang salah menjadi sebab utama ruam popok pada bayi.

Meski demikian, ruam popok juga bisa dialami balita yang masih menggunakan popok, baik popok kain maupun popok sekali pakai. Jadi, pastikan area kulit yang ditutup popok terjaga kebersihan dan tingkat kelembabannya.

Jumat, 22 Juli 2011

, , ,

6 Cara Agar Bayi Aman Sejak Hari Pertama di Rumah


Setelah buah hati lahir ke dunia, hidup Anda sekeluarga menjadi lebih semarak. Mengingat sebagian besar kehidupannya akan dihabiskan di rumah, tentu Anda ingin memastikan bahwa semua ruangan serta sudut selalu dalam kondisi bersih dan juga aman untuk tumbuh-kembangnya yang begitu pesat. Inilah hal-hal yang perlu Anda cermati keamanannya.

1. Memasang car seat

Saat menempatkannya di kursi khusus anak-anak di mobil, perhatikan posisi tali pengamannya. Pastikan tali berada di area pinggul dan bahu, sementara klip pengaman yang berada di area dada sejajar dengan garis ketiaknya.

2. Menidurkan bayi
Posisi tidur yang paling baik adalah telentang. Singkirkan barang-barang yang membuat boks tempat tidurnya jadi terlalu penuh dan sempit, seperti tumpukan selimut, bantal, atau mainan.

3. Meletakkan bayi di kursi tinggi atau kereta dorong
Meski Anda sangat yakin sang bayi sudah aman, tetaplah mematuhi aturan untuk menggunakan tali pengaman. Terutama bila dia berada pada posisi yang tinggi dan jauh dari lantai. Hindari juga meninggalkannya tanpa pengawasan, bahkan di kala Anda sudah mengikatkan tali pengaman.

4. Membersihkan rumah
Memiliki bayi membuat Anda harus dua kali lebih teliti saat membersihkan rumah. Awasi agar tidak ada benda-benda kecil yang berserakan yang mungkin dapat tertelan oleh bayi. Inspeksi juga celah-celah sempit di antara sofa dan lemari untuk memastikan tidak ada koin, baterai, atau kertas tisu yang tercecer di sana. Selain itu, jangan pernah biarkan anak makan tanpa diawasi.

5. Memandikan bayi
Saat bayi mulai semakin besar, dia akan semakin gemar bermain di bak mandi. Pastikan selalu ada orang dewasa yang mengawasinya di dalam bak mandi dan tidak meninggalkannya untuk alasan apa pun juga. Bayi dan anak-anak dapat tercelup ke dalam bak mandi dalam hitungan detik. Jadi, jangan longgarkan pengawasan.

6. Interaksi dengan anjing
Punya anjing di rumah? Hindari meninggalkan bayi bermain-main bersama anjing tanpa diawasi oleh orang dewasa. Sebaik apa pun anjing Anda, tindak-tanduknya tidak dapat diprediksikan. Jangan sampai pada akhirnya anak Anda digigit anjing karena mencoba menarik ekornya.