Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Desember 2014

Penyakit karena faktor sederhana..


Gangguan Kesehatan adalah kondisi dimana tubuh atau pikiran seseorang tidak lagi dalam kondisi normal. Gangguan Kesehatan bisa dideteksi oleh orang-orang di sekitar, namun ada yang hanya bisa dirasakan sendiri. Adapun penyebab Gangguan Kesehatan bisa beragam, baik dari faktor yang serius atau faktor yang sederhana.

Faktor sederhana yang bisa memicu gangguan kesehatan, biasanya disebabkan karena kesibukan dan rutinitas setiap hari. Apa saja kebiasanan sederhana yang dapat meicu gangguan kesehatan? Diantaranya adalah sebagai berikut: 

Tidak Mencuci Tangan sebelum melakukan suatu aktivitas terutama sebelum makan akan berdampak luar biasa. Asal muasal penyakit yang menular sering terjadi dari kuman yang menempel di tangan. Sehingga Kedua tangan harus dicuci menyeluruh dengan menggunakan air yang mengalir ditambahkan dengan sabun hingga ke sel jari dan kuku sebelum mengkonsumsi makanan. 

Menyilangkan Kaki ketika Duduk dapat meningkatkan tekanan darah di dalam tubuh hingga mencapai 7%. Hal ini dikarenakan, karena ketika seseorang menyilangkan kaki maka terjadi peningkatan tekanan di sendi pinggul dan dapat menyebabkan pengumpulan darah di kaki. 

Makan sambil berjalan atau terburu-buru, akan menghilangkan keadaan rileks. Hal ini akan menghambat kinerja Enzim. Agar proses pencernaan tetep lancer, sebaiknya sisihkan waktu setidak 10 menit untuk makan dalam suasana rileks. 

Menahan Kencing, dengan alasan apapun akan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. 

Terlalu Lama Mengemudi, yang tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup dapat meningkatkan tekanan darah di kaki hingga menyebabkan aliran darah tidak lancar. Untuk mengatasi gangguan kesehatan ini, pastikan beristirahat setalah mengemudi selama 1-2 jam. 

Terlalu sering membawa beban berlebihan, seperti Tas dapat menyebabkan ketidakseimbangan otot dan nyeri bahudan berisiko besar terkena penyakit tulang belakang. 

Lupa Minum, dapat memicu dehidrasi sehingga tubuh akan mudah terserang penyakit. 

Setelah memahami kondisi diatas, maka sebaiknya anda menghindari kebiasaan-kebiasaan kurang baik tersebut dan meningkatkan konsumsi makanan yang memiliki asupan gizi yang baik untuk kesehatan yang lebih baik.

Ringkasan: 
Deteksi Gangguan Kesehatan bisa oleh orang lain atau ada juga yang hanya bisa dirasakan dirinya sendiri, 

Faktor sederhana yang bisa memicu gangguan kesehatan seperti Tidak Mencuci Tangan, Menyilangkan Kaki ketika Duduk, Makan sambil berjalan, Menahan Buang Air Kecil dan Terlalu Lama Mengemudi. 

Minggu, 30 November 2014

,

Kalau bayi nangis terus-menerus...


Bayi mengungkapkan ketidaknyamanan yang dia rasakan melalui tangisan. Kadang ibu pun bingung dibuatnya, karena tidak tahu apa maksud dari tangisan buah hatinya tersebut. Gendongan dan susu pun menjadi jurus andalan para ibu untuk menenangkan sang bayi. Tapi, jika bayi tetap tak henti-hentinya menangis, waspadai adanya gangguan pencernaan atau yang disebut kolik.

Menurut pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) sekaligus anggota koligium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr Muhammad Juffrie, kolik merupakan nyeri perut yang cukup hebat pada bayi. Kondisi tersebut kerap dialami bayi yang meminum ASI maupun susu formula.

"Saat mengalami kolik, bayi akan menangis terus, bisa lebih dari tiga jam," ujar Juffrie, dalam diskusi "Pentingnya Kesehatan Pencernaan pada Bayi", baru-baru ini.

Meski kerap dialami oleh bayi yang lahir dalam hitungan bulan, penyebab kolik belum diketahui pasti. Namun, menurut hipotesis yang ada, para dokter anak menduga bahwa kolik disebabkan oleh intoleransi makanan, alergi protein susu sapi, serta aktivitas laktase yang rendah.

"Bayi yang baru lahir hingga berusia empat bulan biasanya paling sering mengalami kolik. Hal ini terjadi karena saluran cernanya belum sempurna. Akibatnya, makanan yang mengandung laktosa tidak dicerna baik, sehingga membuat bayi kembung dan akhirnya menangis," lanjut Juffrie.

Diketahui, bayi sering kali mengalami kolik pada malam hari. Akibatnya, dia pun menangis terus-menerus pada jam-jam istirahat. Sebagai dampaknya, pola tidur sang bayi maupun orang tuanya pun terganggu.

Meski demikian, Juffrie menyebut bahwa kolik normal dialami setiap bayi. Dia pun menyarankan agar tidak sembarangan memberi obat saat bayi kolik, karena masalah itu akan hilang dengan sendirinya.

"Jangan asal memberi obat saat bayi kolik. Bayi itu komplikasinya lebih banyak. Nanti juga akan hilang sendiri," katanya.





Sabtu, 22 November 2014

,

Binatang dan Kesehatan Anak

http://cdn.klimg.com/vemale.com/headline/650x325/2013/07/27197-kesehatan-anak-dan-hewan-peliharaan-033655.jpg

Benarkah memelihara hewan dapat membuat si kecil belajar tanggung jawab? Bagaimana dengan penyakit yang ditularkan oleh hewan, apakah tidak berbahaya bagi si kecil? Lalu bagaimana jika si kecil suka hewan?

Sebagai orangtua, terkadang kita heran melihat tingkah anak-anak jika sedang bermain dengan binatang kesayangannya. Bahkan ada anak yang menangis tersedu-sedu ketika binatang kesayangannya mati. Ada hubungan yang unik antara anak dan binatang.

Mengapa Suka Hewan?
Barangkali Anda memiliki anak yang suka memelihara hewan tertentu. Padahal Anda sendiri tidak suka. Entah itu kucing, anjing, kelinci, hamster, ayam yang memang sudah biasa dipelihara. Atau bahkan binatang-binatang yang tak lazim seperti ular, iguana, monyet, tikus, bahkan… anak macan.

Selain lucu, bulunya yang halus, bentuk wajahnya yang iut, sebenarnya secara psikologis ada beberapa hal yang membuat anak-anak suka memelihara hewan. Olin Eugene Myers, Jr., seorang psikolog dari Western Washington University, Amerika Serikat mengatakan, ada beberapa faktor yang menentukan interaksi antara anak dengan hewan.


A. Reaksi Positif


Reaksi anak terhadap binatang tergantung respon awal mengenai binatang tersebut. Ini tentu saja akan didapat anak dari lingkungannya. Ketika seorang anak ‘berkenalan’ dengan binatang itu dengan cara positif, misalnya seekor anak kucing yang lucu dan lincah tiba-tiba mendekati anak Anda. Kemudian mereka akrab bercanda, si kucing juga nurut dibelai-belai, maka respon positif telah tertanam pada diri anak Anda. Maka jika anak Anda kemudian berniat memelihara kucing, Anda jangan heran.

Namun ketika kucing tesrebut tiba-tiba galak lalu mencakar anak Anda hingga berdarah, dan anak Anda menangis kesakitan sampai ia ketakutan jika dekat dengan kucing, maka telah terjadi respon negatif. Anak Anda tak akan lagi mau mendekati kucing, apalagi memeliharanya.

Ketika Anda mengajak anak-anak ke kebun binatang, tanpa disadari sebenarnya Anda telah menanamkan ‘kesan’ kepada anak-anak. Padahal mungkin tujuan Anda hanya ingin memperkenalkan binatang pada mereka. Respon positif anak-anak terhadap binatang itulah yang mendorong hatinya untuk mencintai binatang.

B. Tubuh Hewan Unik


Tubuh binatang yang lebih kecil dari tubuh anak, bentuk badannya yang unik, bulu yang halus atau tingkahnya yang lucu membuat anak-anak Anda ‘jatuh cinta’. Secara keseluruhan mereka bisa membelainya, menggendongnya dan menciuminya. Akhirnya anak akan menemukan kesenangan lain. Berbeda jika mereka membelai boneka sekali pun itu boneka binatang.

Semakin mereka merasakan kesenangan dengan membelai tubuh biantang kesayangannya, semakin mereka merasakan ada sesuatu ‘ikatan’ dengan binatang kesayangannya itu. Mereka merasakan keunikan dari binatang itu.


C. Ekspresi Balik


Ketika anak Anda membelai, mencium dan memeluk binatang kesayangannya itu, tentu saja si binatang ikut merasakan betapa ia disayang. Si binatang juga akan memberikan respon balik dengan gerak-geriknya. Ketika ia dibelai-belai, binatang itu akan diam manja. Ketika ia diajak bercanda, ia akan senang meloncat-loncat. Itulah ekspresi balik binatang melalui feeling-nya.

D. Saling Berinteraksi
Kucing ini membujuk anak untuk berhenti menangis:

Ketika seorang anak telah punya kesan positif dan merasa telah mendapatkan ‘sesuatu’ dari hewan peliharaannya itu, anak akan menganggap binatang peliharaannya sebagai ‘teman’. Mereka saling berinteraksi satu sama lain. Anak punya rasa kepedulian dan tanggung jawab menjaga binatang kesayangannya itu dan si binatang seolah-olah merasa punya ‘hutang budi’ pada tuannya.

Benarkah Bermanfaat?
Anak Jadi Lebih Peduli:


Secara psikologis, anak yang memelihara binatang jadi lebih peduli, lebih bertanggung jawab, juga lebih sayang. Tampaknya memelihara binatang ada sisi positifnya. Berdasarkan hasil penelitian, berteman dengan hewan mengajarkan anak tanggung jawab, mendorong tumbuhnya kepedulian, rasa solidaritas, pertemanan, keamanan, kenyamanan dan sarana menyalurkan kasih sayang.

Beberapa anak bahkan menggunakan binatang peliharaannya sebagai teman saat mereka bosan, kesepian, atau ketika sedang sedih. ahkan beberapa negara telah menggunakan binatang sebagai sarana terapi bagi anak-anak yagn sulit menjalani hubungan orang lain. Tapi, kata Myers, sebaiknya tidak memilih hewan-hewan yang tidak lazim seperti ular, iguana atau anak macan, kecuali orangtua memang sudah memeliharanya lebih dulu. Jadi, biarkanlah anak-anak Anda memelihara binatang kesukaannya.

Jika Anak Anda Memelihara Binatang



Pastikan bahwa binatang yang akan dipelihara bukan binatang buas dan bebas dari penyakit. Bawalah binatang tersebut ke dokter hewan untuk memastikannya. Secara berkala bawalah binatang tersebut ke dokter hewan untuk memastikan bahwa binatang itu sehat.

Ajari anak Anda untuk selalu menjaga kebersihan binatang peliharaannya. termasuk di mana binatang itu mengeluarkan kotoran, makan dan sebagainya.

Mintalah anak untuk memberi sendiri makan dan minum binatang kesayangannya. Tegaskah bahwa itulah konsekuensi jika ingin memelihara binatang.

Tekankan pada mereka bahwa binatang hanya ‘jembatan’ bagi mereka untuk dapat lebih baik bersosialisasi dengan orang lain


Sumber 
Diskusi lebih lanjut di SINI
Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :


Hal2 sederhana yg mengganggu kesehatan...


Gangguan Kesehatan adalah kondisi dimana tubuh atau pikiran seseorang tidak lagi dalam kondisi normal. Gangguan Kesehatan bisa dideteksi oleh orang-orang di sekitar, namun ada yang hanya bisa dirasakan sendiri. Adapun penyebab Gangguan Kesehatan bisa beragam, baik dari faktor yang serius atau faktor yang sederhana.

Faktor sederhana yang bisa memicugangguan kesehatan, biasanya disebabkan karena kesibukan dan rutinitas setiap hari. Apa saja kebiasanan sederhana yang dapat meicu gangguan kesehatan? Diantaranya adalah sebagai berikut:

Tidak Mencuci Tangan sebelum melakukan suatu aktivitas terutama sebelum makan akan berdampak luar biasa. Asal muasal penyakit yang menular sering terjadi dari kuman yang menempel di tangan. Sehingga Kedua tangan harus dicuci menyeluruh dengan menggunakan air yang mengalir ditambahkan dengan sabun hingga ke sel jari dan kuku sebelum mengkonsumsi makanan.

Menyilangkan Kaki ketika Duduk dapat meningkatkan tekanan darah di dalam tubuh hingga mencapai 7%. Hal ini dikarenakan, karena ketika seseorang menyilangkan kaki maka terjadi peningkatan tekanan di sendi pinggul dan dapat menyebabkan pengumpulan darah di kaki.

Makan sambil berjalan atau terburu-buru, akan menghilangkan keadaan rileks. Hal ini akan menghambat kinerja Enzim. Agar proses pencernaan tetep lancer, sebaiknya sisihkan waktu setidak 10 menit untuk makan dalam suasana rileks.

Menahan Kencing, dengan alasan apapun akan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih.

Terlalu Lama Mengemudi, yang tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup dapat meningkatkan tekanan darah di kaki hingga menyebabkan aliran darah tidak lancar. Untuk mengatasi gangguan kesehatan ini, pastikan beristirahat setalah mengemudi selama 1-2 jam.

Terlalu sering membawa beban berlebihan, seperti Tas dapat menyebabkan ketidakseimbangan otot dan nyeri bahudan berisiko besar terkena penyakit tulang belakang.

Lupa Minum, dapat memicu dehidrasi sehingga tubuh akan mudah terserang penyakit.Setelah memahami kondisi diatas, maka sebaiknya anda menghindari kebiasaan-kebiasaan kurang baik tersebut dan meningkatkan konsumsi makanan yang memiliki asupan gizi yang baik untuk kesehatan yang lebih baik.

Ringkasan:

Deteksi Gangguan Kesehatan bisa oleh orang lain atau ada juga yang hanya bisa dirasakan dirinya sendiri,
Faktor sederhana yang bisa memicu gangguan kesehatan seperti Tidak Mencuci Tangan, Menyilangkan Kaki ketika Duduk, Makan sambil berjalan, Menahan Buang Air Kecil dan Terlalu Lama Mengemudi.

Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :



Powered by FeedBlitz

Selasa, 18 November 2014

Awas ! kanker neuroblastoma pada balita...


Neuroblastoma adalah kanker yang berkembang dari sel-sel saraf yang belum matang yang bisa menyerang di beberapa bagian tubuh. Kanker ini paling sering ditemukan di dalam dan di sekitar kelenjar adrenal, yang memiliki asal-usul yang sama dengan sel-sel saraf, namun memang kanker ini bisa berkembang di daerah lain di perut, dada, leher dan dekat tulang belakang, di mana kelompok sel-sel saraf berada.


Neuroblastoma memang lebih sering menyerang anak-anak usia dibawah lima tahun, bahkan kanker ini bisa mulai berkembang ketika masih janin di dalam kandungan. Neuroblastoma dimulai di neuroblast, sel saraf yang belum matang yang sebagai bagian dari proses perkembangan. Setelah janin matang, neuroblast berubah menjadi sel-sel saraf dan sel-sel yang membentuk kelenjar adrenal.

Sebagian besar neuroblast matang setelah janin dilahirkan, namun ada juga sejumlah kecil neuroblast yang belum matang ditemukan pada bayi baru lahir dan akan menghilang dengan sendirinya. Namun pada kasus Penyakit Neuroblastoma, akan matang dan menghilang, namun, ada juga yang membentuk tumor.

Gejala Neuroblastoma
Gejala Penyakit neuroblastoma bervariasi, tergantung pada bagian tubuh mana yang terserang. Neuroblastoma paling banyak menyerang perut dengan gejala awal nyeri perut, massa di bawah kulit yang tidak lembut bila disentuh, perubahan kebiasaan buang air besar seperti diare, dan terjadi pembengkakan pada kaki. 

Sedangkan Neuroblastoma yang terjadi pada dada memiliki gejala seperti, suara menciut saat bernapas, nyeri di dada, perubahan pada mata, termasuk kelopak mata terkulai dan ukuran pupil antara mata kanan dan kiri tidak sama.

Gejala lain yang menunjukkan hadirnya neuroblastoma adalah munculnya gumpalan jaringan di bawah kulit, bola mata yang terlihat menonjol dari soket (disebut proptosis atau penonjolan bola mata abnormal), lingkaran hitam yang mirip dengan memar di sekitar mata, demam, nyeri punggung, penurunan berat badan, dan nyeri tulang. 

Sehingga apabila buah hati Bunda mengalami gejala-gejala tersebut diatas,segeralah berkonsultasi dengan dokter anak dan jelaskan perubahan perilaku atau kebiasaan anak.

Pengobatan Neuroblastoma
Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, buah hati anda menderita Neuroblastoma, pengobatan bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Tindakan pembedahan biasanya digunakan untuk mengobati neuroblastoma. Namun apabila letak tumor telah menyebar dan tidak bisa diangkat, maka tindakan biopsi dapat dilakukan sebagai pengganti operasi.

Terapi Radiasi, merupakan metode pengobatan kanker yang menggunakan sinar-x energi tinggi atau jenis radiasi lain untuk membunuh sel kanker atau menjaganya agar tidak bertumbuh menjadi lebih ganas.

Kemoterapi, merupakan metode pengobatan kanker menggunakan obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau dengan menghentikannya.

Waspada dan menunggu, dengan tetap memantau kondisi pasien tanpa memberikan pengobatan apapun sampai gejala muncul atau berubah. Hal ini bertujuan untuk memastikan metode pengobatan mana yang paling tepat.Ringkasan:

Neuroblastoma adalah kanker yang berkembang dari sel-sel saraf yang belum matang terutama pada anak-anak,

Gejala awal Neuroblastoma adalah ada gumpalan di bawah kulit, perubahan kebiasaan buang air besar seperti diare, dan pembengkakan kaki, Pengobatan Neuroblastoma bisa diobati dengan Operasi, Terapi Radiasi dan Kemoterapi.

Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :




Rabu, 08 Agustus 2012

,

PICA : Suka Makan Kabel dan Penge-charges HP...


Bila ditinggal sendirian, si kecil Joseph Hughes bisa membahayakan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, ia memiliki kebiasaan makan yang aneh bahkan bisa mematikan, yaitu kabel listrik dan charger ponsel.

Joseph Hughes (5 tahun) mengidap Pica, yaitu penyakit pola makan yang membuat penderitanya makan benda-benda selain makanan. Tapi yang diidap Joseph sangat membahayakan karena berhubungan dengan listrik.

Betapa terkejutnya sang ibu, Kate Jarvis (25 tahun), saat pertama kali melihat putranya sedang mengunyah kabel listrik game dan charger ponsel. Untungnya, kedua kabel tersebut tidak sedang dalam posisi terhubung listrik.

Tapi ketakutan Kate terus ada karena bisa saja suatu saat Joseph melakukannya saat kabel benar-benar terhubung dengan listrik.

Untuk membuatnya lebih aman, Kate memakaikan Joseph sepatu bersol karet untuk melindunginya dari bahaya listrik.

"Pertama kali saya melihat Joseph mengunyah kabel listrik, saya sangat ketakutan. Saya dan ayahnya berbicara padanya tentang bagaimana bahaya bisa terjadi, tetapi dia punya keinginan makan yang kuat dan hal itu terjadi lagi," jelas Kate yang tinggal di Preston, Lancashire, Inggris, seperti dilansir Thesun, Jumat (3/8/2012).

Kini ibu tiga anak ini telah menyembunyikan semua peralatan listrik di rumahnya untuk melindungi Joseph, yang telah didiagnosis dengan Pica.

Penyakit Pica

Orang yang makan makanan aneh seperti tanah, pasir, kapur, puntung rokok, lampu, bulu bahkan kotoran binatang didiagnosa sebagai penderita Pica yakni penyakit pola makan yang aneh.

Pica biasa terjadi pada anak-anak, ibu hamil dan orang dewasa. Penderita Pica biasanya mengonsumsi makanan yang tidak masuk akal. Penyebabnya hingga kini masih belum diketahui dengan jelas. Tapi beberapa peneliti menduga kurangnya zat besi dan anemia memicu pola makan tersebut.

Penggunaan obat-obatan hanya diperlukan jika penderita Pica sudah mengalami gangguan atau penyakit mental. Yang terpenting dalam mengobati penderita Pica adalah terapi perawatan medis dan psikologis.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Kamis, 29 September 2011

, , , , ,

Melindungi Bayi Sebaiknya Tidak Ekstrim



Para ibu selalu mensterilkan botol susu, menggunakan sabun anti bakteri, pembersih, dan akan melakukan apapun demi kesehatan buah hati. Sayangnya, pada waktu bersamaan, jumlah anak yang menderita alergi bukannya menurun malah meroket jika dibandingkan 30-40 tahun silam. Mengapa bisa demikian? Apakah ada kemungkinan hal ini dikarenakan kita terlalu ekstrim dalam melindungi anak?

Cara kerja imun bayi

Perlu ibu ketahui, agar dapat berkembang maksimal, sistem imun buah hati (sayangnya) perlu berlatih 'memerangi' kuman. Bayi yang baru lahir memang mendapat perlindungan dari ASI yang ibu berikan, namun ASI sendiri takkan mampu melindunginya dari semua jenis bakteri/ kuman penyakit.

Ketika sistem imun bertemu dengan bakteri yang belum pernah dihadapinya sebelumnya, maka imun tersebut akan mengirim antibodi untuk melawan bakteri. Kadang bakterilah yang menang dan anak jadi sakit, mungkin demam atau batuk. Namun setidaknya dari pengalaman tersebut, sistem imun sudah 'merekam' si bakteri, dan lain hari saat bakteri itu menyerang lagi, maka sistem imun sudah lebih siap menghadapinya.

Suntikan imunisasi juga bekerja dengan prinsip yang sama, memperkenalkan jenis bakteri/ kuman dengan sistem imun sehingga imun bisa siap menghadapi serbuan kuman yang lebih besar nantinya. Melihat cara kerja sistem imun di atas, boleh dikata bahwa perlindungan yang terlalu ekstrim justru hanya akan melemahkan daya tahan tubuh anak.

Lalu, bagaimana cara melindungi bayi dengan sewajarnya?

1. Cuci tangan. Seiring bertumbuhnya buah hati, ajari ia untuk melakukannya juga, terutama setelah dari WC atau sebelum makan.

2. Tetap sterilkan botol susu dan pentilnya. Susu merupakan sarang bakteri yang bisa menyebabkan timbulnya radang lambung dan usus. Selalu buang susu tersisa, tak perlu memanaskannya ulang karena bisa memicu pertumbuhan bakteri.

3. Bersihkan area pantat secara teratur untuk mencegah timbulnya ruam dan infeksi akibat pemakaian popok. Untuk bayi perempuan, cara membersihkannya adalah dari depan ke belakang.

4. Hati-hati terhadap makanan. Biarkan makanan beku hingga kembali ke suhu kamar sebelum diolah. Ibu juga perlu mewaspadai pengolahan telur, selalu masak telur hingga matang untuk menghindari infeksi bakteri salmonella. Sedapat mungkin jauhkan telur mentah dalam kulkas dari makanan lainnya. Jika ibu memanaskan ulang makanan (lakukan hanya sekali saja), panasi dengan temperatur tinggi, dan biarkan makanan hingga benar-benar dingin sebelum disimpan dengan wadah di dalam kulkas.

Senin, 26 September 2011

, , ,

Bayi Prematur Punya Risiko Mati Lebih Tinggi Saat Remaja



Kelahiran bayi sebelum usia kehamilan penuh terkadang tidak dapat dihindari. Bayi yang lahir prematur membutuhkan perawatan medis dan perhatian maksimal.

Bayi yang lahir prematur biasanya akan sangat rentan mengalami beberapa masalah kesehatan. Menurut sebuah studi baru, ketika bayi prematur tumbuh menjadi remaja, memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Umumnya bayi yang terlahir secara prematur memang lebih rentan terkena berbagai masalah kesehatan jika dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dengan usia kandungan penuh.

Penelitian sebelumnya menunjukkan risiko kematian bayi prematur berakhir setelah si bayi berhasil melewati tahun pertama kelahirannya, setelah itu risiko kematiannya normal.

Namun penelitian baru berlawanan dengan penelitian sebelumnya, yang menemukan bahwa bayi prematur lebih rentan mengalami kematian saat remaja karena penyakit serius antara lain penyakit jantung, diabetes dan asma. Beberapa penyakit tersebut memang memiliki perkembangan penyakit yang cukup lama.

"Hal tersebut merupakan penemuan yang sama sekali baru. Bahkan bayi yang lahir hanya beberapa minggu lebih awal juga tetap memiliki peningkatan risiko kematian. Namun, angka kematian mutlak sekitar 1 per 1.000 orang per tahun, sehingga masih termasuk sangat rendah," kata Dr Casey Crump dari Stanford University seperti dikutip dari HealthNews, Senin (26/9/2011).

Hasil penelitian Dr. Crump telah dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association.

Penelitian ini melibatkan hampir 675.000 orang Swedia yang lahir antara tahun 1973-1979. Peneliti menemukan anak yang lahir sebelum usia 37 minggu kehamilan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk meninggal sebelum usia 5 tahun jika dibandingkan bayi yang lahir dengan usia kandungan penuh.

Meskipun anak telah berhasil melewati masa kanak-kanak, tetapi kemudian anak tersebut memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami kematian pada usia sekitar 18-36 tahun.

Dr. Crump mengatakan masalah kesehatan yang kemungkinan dapat terkait dengan kematian bayi yang terlahir secara prmatur, antara lain penyakit jantung, diabetes, dan asma. Beberapa penyakit tersebut memang memiliki perkembangan penyakit yang cukup lama.

"Saya pikir hal ini penting untuk menyadari potensi peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan yang akan dialami bayi yang terlahir secara prematur," katanya.

Sabtu, 17 September 2011

, , ,

Kenali Gejala Pusing Pada Bayi



Bayi menangis terus, tapi Anda tidak tahu kenapa? Bisa jadi anak Anda pusing.

Tidak hanya orang dewasa saja, bayi yang belum bicara juga bisa sakit kepala. Tapi, bagaimana Anda bisa tahu kalau dia pusing? Lihat gejala yang ada padanya:

1. Menghindari arah cahaya.

2. Kulitnya lebih pucat dari biasanya, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

3. Mengerutkan kening.

4. Seperti ingin tidur tapi sulit memejamkan mata.

5. Suhu badannya agak panas.

Pusing bukanlah suatu penyakit yang harus dibawa ke ruang gawat darurat dengan segera. Ada pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan di rumah. Coba lakukan hal berikut:

1. Redupkan lampu.

2. Ajak anak berbaring dan menutup matanya.

3. Kompres keningnya dengan air dingin.

4. Buat dia tetap tenang dengan membacakan cerita atau mendengarkan musik bersama.

5. Beri obat sakit kepala dengan dosis yang sesuai dengan usianya.

Jika suhu badan anak semakin tinggi, pusing masih terasa setelah 24 jam, muntah, dan muncul gejala lain, maka segera konsultasikan ke dokter.

Jumat, 16 September 2011

, ,

Waspadai Hipertensi Pada Bayi



Siapa bilang penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi hanya terjadi pada orang dewasa? Anak-anak atau bayi juga bisa memiliki tekanan darah tinggi.

Hipertensi memang jauh lebih umum dikalangan orang dewasa, tapi diperkirakan jumlah anak yang mengalami hipertensi juga bisa meningkat seiring terjadinya peningkatan obesitas dikalangan anak-anak.

Sedangkan pada bayi, hipertensi disebabkan oleh kelahiran prematur atau adanya masalah pada jantung atau ginjalnya.

Tekanan darah tinggi yang terjadi pada anak-anak atau remaja umumnya tidak memiliki masalah dengan kesehatan lainnya. Tapi jika tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, otak, ginjal dan mata. Jika kondisi ini dapat terdeteksi sejak awal, maka anak tetap bisa memiliki kehidupan yang normal dan aktif.

Umunya anak-anak yang memiliki hipertensi disebabkan oleh adanya riwayat hipertensi di keluarganya, gaya hidup tidak sehat, pola makan buruk, kelebihan berat badan, stres dan kurang aktivitas fisik.

Bila seseorang memiliki tekanan darah tinggi, maka jantung dan pembuluh darah memiliki beban kerja yang jauh lebih berat. Jantung harus memompa lebih keras dan arteri menjadi jauh lebih tertekan saat harus membawa darah.

Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, maka jantung dan pembuluh darah mungkin tidak bisa lagi bekerja secara optimal. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi organ lain yang menerima asupan darah dari jantung.

Meski demikian umumnya hipertensi tidak selalu menimbulkan gejala. Tapi jika kondisi hipertensinya sudah berat, bisa saja timbul sakit kepala, perubahan penglihatan, pusing, mimisan, jantung berdebar-debar dan mual.

Seperti dikutip dari Kidshealth, Selasa (18/5/2010) tekanan darah yang normal tergantung dari jenis kelamin, usia dan tinggi badan si anak.

Pada anak-anak disebut mengalami hipertensi jika tekanan darahnya lebih tinggi 95 persentil untuk usia, tinggi dan jenis kelaminnya. Dengan kata lain tekanan darahnya 95 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak lain pada usia, tinggi dan jenis kelamin yang sama.

Anak-anak yang diukur tekanan darahnya cenderung akan merasa gugup, sehingga dokter seringkali mengukur sebanyak tiga kali dan menggunakan angka di rata-ratanya untuk menentukan apakah seorang anak memiliki hipertensi atau berisiko mengembangkan kondisi tersebut.

Jika hipertensi yang terjadi pada anak-anak akibat penyakit tertentu, maka dengan mengobati penyakit tersebut tekanan darah normal akan bisa didapatkan kembali.

Namun jika tidak ada penyakit yang mendasari, maka dokter akan merekomendasikan untuk mengurangi berat badan, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, mengurangi asupan garam, meningkatkan aktivitas fisk, mempelajari teknik-teknik relaksasi serta menghindari anak dari asap rokok.

Sebagian besar dokter memilih untuk tidak memberikan resep obat bagi anak-anak yang memiliki hipertensi ringan. Namun jika perubahan gaya hidup ini tidak memberikan perbaikan dan kondisinya semakin parah, maka pemberian resep obat mungkin diperlukan.

Karena itu tak ada salahnya bagi para orangtua untuk selalu meminta dokter mengukur tekanan darah anaknya pada saat konsultasi atau pemeriksaan rutin lainnya, terutama bagi anak yang mengalami obesitas.

Selasa, 13 September 2011

, ,

Risiko Autis Bisa Dideteksi dari Kemampuan Motorik Bayi 7 Bulan



Keterampilan motorik bayi usia 7 bulan antara lain mampu menahan kepala, berguling, menggenggam dan memainkan benda-benda kecil. Jika seusia tersebut keterampilan motorik bayi rendah, bisa berisiko tinggi mengalami Autistic Spectrum Disorder (ASD) daripada anak-anak di populasi umum.

Demikian temuan penelitian yang disajikan dalam Konferensi Perkembangan Anak British Psychological Society di Newcastle seperti dirilis dari ScienceDaily, Selasa (13/9/2011).

Penelitian ini dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Dr Elisabeth Hill (University of London), Dr Hayley Leonard (Goldsmiths) dan British Autism Study of Infant Siblings (BASIS) yang bermarkas di Birkbeck University of London.

Analisis statistik menunjukkan bahwa kelompok yang berisiko ASD kurang memiliki keterampilan motorik yang baik dan terdeteksi sejak usia 7 bulan. Keterampilan motorik dapat berupa kemampuan motorik kasar seperti kemampuan untuk menahan kepala, berguling, belajar berjalan, serta keterampilan motorik halus seperti menggenggam dan memainkan benda-benda kecil. Rendahnya kemampuan motorik ini masih terlihat hingga 24 bulan penilaian.

"Meskipun bayi yang berisiko ASD belum tentu didiagnosis ASD, penelitian menunjukkan bahwa rendahnya perkembangan motorik bisa memiliki dampak negatif pada kemampuan bahasa serta perkembangan sosial dan kognitif dari waktu ke waktu. Rendahnya perkembangan motorik dapat berdampak pada perkembangan keterampilan sosial, prestasi sekolah dan performa jangka panjang," kata Dr Hayley Leonard, salah seorang peneliti.

Peneliti memeriksa bayi dengan kakak yang didiagnosa memiliki ASD. Hubungan saudara selama ini diketahui berisiko tinggi terkena gangguan autis. Para peneliti mengamati kemampuan bayi pada usia 7, 14 dan 24 bulan.

Hasil dua kelompok bayi yang berpartisipasi dalam penelitian itu adalah 54 bayi yang didiagnosis berisiko ASD berdasarkan diagnosis saudaranya, serta 50 bayi berisiko rendah tanpa diagnosis berdasarkan saudara. Bayi-bayi tersebut kemudian dievaluasi berbagai kemampuan motoriknya dan laporan orangtuanya yang juga ikut didokumentasikan.

Rabu, 07 September 2011

, , ,

Demam Saat Bayi Tumbuh Gigi Hanya Mitos



Orangtua percaya bahwa saat anak tumbuh gigi biasanya disertai dengan munculnya demam. Padahal anak yang tumbuh gigi tak harus mengalami demam, karena demam yang timbul bisa jadi adanya indikasi infeksi.

Orangtua seringkali menyalahkan berbagai penyakit yang timbul sebagai akibat dari tumbuhnya gigi baru, termasuk mengalami demam. Tapi studi menemukan bahwa proses tumbuh gigi tidak menyebabkan perubahan suhu tubuh.

"Masyarakat sudah menyakini mitos tersebut. Sebenarnya usia 6 bulan sampai 3 tahun anak-anak berisiko mengalami peningkatan infeksi ringan seperti pilek atau flu yang bisa menyebabkan demam," ujar ike Morgan, ketua Program Kesehatan Mulut Melbourne Dental School di University of Melbourne seperti dikutip dari The Conversation, Selasa (6/9/2011).

Demam pada anak terjadi jika suhu tubuhnya naik hingga 38 derajat celsius yang menandakan adanya infeksi. Tapi jika suhunya mencapai 39 derajat celsius atau lebih maka menajdi indikasi adanya infeksi yang serius.

Sedangkan gejala yang muncul pada anak selama tumbuh gigi sangat bervariasi, beberapa anak tidak memiliki reaksi apapaun tapi kebanyakan mengalami pembengkakan di gusi dan pipi yang memerah.

Ketidaknyamanan yang timbul pada anak saat bisa diatasi dengan memberikan obat gel yang bisa meringankan rasa sakit ketika gigi tumbuh. Tapi jika bayi sedang menyusu maka hindari penggunaannya karena bisa membuat bayi mati rasa dan sulit menyusu.

"Setelah gigi pertama muncul, sebaiknya segera disikat dengan lembut untuk melindunginya dari pembusukan dan gunakan pasta gigi yang mengandung flouride rendah setiap harinya," ungkap Mike.

Umumnya gigi pada bayi atau dikenal dengan gigi susu mulai terbentuk sejak awal kehamilan (sekitar 8 minggu setelah pembuahan). Gigi ini sudah ada di dalam tulang rahangnya saat dilahirkan, dan nantinya ia akan terdorong keluar ketika berusia 6 bulan dan memiliki gigi lengkap ketika berusia 3 tahun.

Kamis, 25 Agustus 2011

, ,

ASI Sangat Bermanfaat Tapi Bukan untuk Mencegah Eksem



Banyaknya manfaat Air Susu Ibu (ASI) pada bayi memang tidak terbantahkan lagi. Namun jika ada yang menyebut ASI Ekslusif selama 6 bulan atau lebih bisa mencegah risiko eksem, penelitian terbaru membuktikan bahwa klaim itu berlebihan.

Anggapan bahwa ASI Eksklusif dapat mencegah eksem atau penyakit gatal-gatal di kulit pertama kali dimunculkan oleh pemerintah Inggris dan beberapa negara lain di Eropa. Dikatakan, bayi yang hanya disusui oleh ibunya selama kurang dari 4 bulan cenderung lebih rentan kena eksem.

Tanpa mengabaikan manfaat ASI yang lain, para ilmuwan dari King's College London mencoba membuktikan anggapan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, penelitian berskala multinasional ini melibatkan 51.119 anak usia 8-12 tahun yang dijaring dari 21 negara di Eropa, Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Selain menanyakan riwayat pemberian ASI pada para orangtua partisipan, peneliti juga melakukan pemeriksaan kulit dan tes alergi. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosis adanya risiko untuk mengalamui eksem, untuk selanjutnya dibandingkan dengan riwayat ASI Eksklusifnya.

Hasil analisis menunjukkan, tidak ada keterkaitan yang signifikan antara durasi mendapatkan ASI Eksklusif dengan risiko terkena eksem. Pada partisipan yang hanya mendapat ASI selama 4 bulan atau kurang punya risiko yang sama dengan paritisipan yang mendapat ASI selama 6 bulan seperti yang dianjurkan organisasi kesehatan dunia atau WHO.

Dr Carsten Flohr, salah satu peneliti yang terlibat mengatakan panduan memberikan ASI Eksklusif yang dikeluarkan pemerintah Inggris perlu diganti agar tidak menyesatkan. Setidaknya, bagian yang mengatakan bahwa ASI bisa mencegah eksem perlu dihilangkan.

Terlepas dari valid atau tidaknya kesimpulan tersebut, pemberian ASI Ekslusif selama 6 bulan tetap wajib dilakukan. Kalaupun ternyata benar-benar tidak melindungi bayi dari eksem, paling tidak ASI tetap memiliki nutrisi lain yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan daya tahan bayi.

"Tidak diragukan lagi bahwa ASI adalah nutrisi terpenting pada masa-masa awal kehidupan seorang bayi. Penelitian kami tidak mengubah hal itu," ungkap Dr Flohr dalam tulisannya di British Journal of Dermatology, seperti dikutip dari Healthday, Kamis (25/8/2011).

Senin, 08 Agustus 2011

,

Tes untuk Mengetahui Cacat Jantung Bawaan Pada Bayi



Penyakit jantung bawaan yang dialami bayi kadang baru diketahui dikemudian hari. Tapi kini ada tes cepat dan murah untuk mendeteksi apakah bayi memiliki cacat jantung bawaan atau tidak.

Sebuah studi yang dilaporkan dalam majalah kesehatan The Lancet terhadap 20.055 bayi baru lahir menunjukkan bahwa pengujian oksigen dalam darah lebih berhasil untuk mengetahui cacat jantung bawaan dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya.

Para peneliti telah menyerukan untuk melakukan tes oksigen di rumah sakit yang ada di Inggris. Sedangkan British Heart Foundation mengatakan tes ini bisa memberikan perbedaan yang nyata untuk kasus-kasus yang tidak diketahui.

Dalam tes ini dokter di 6 rumah sakit bersalin di Inggris menggunakan pulse oximeters, yaitu teknologi yang sudah ada selama 20 tahun untuk mendeteksi kadar oksigen dalam darah. Jika hasilnya terlalu rendah atau bervariasi antara tangan dan kaki, maka pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan.

Pemeriksaan ini memakan waktu sekitar 5 menit dan menemukan sebanyak 75 persen kelainan jantung yang paling serius. Sedangkan jika tes ini dikombinasikan dengan metode tradisional maka kasus yang terdeteksi sebanyak 92 persen.

"Hasil ini menambah nilai dari prosedur skrining yang ada dan mungkin berguna untuk mengidentifikasi kasus kritis cacat jantung bawaan," ujar Dr Andrew Ewer, ketua peneliti dari University of Birmingham, seperti dikutip dari BBCNews, Senin (8/8/2011).

Cacat jantung bawaan yang dimiliki bayi bisa berupa adanya lubang diantara bilik jantung atau bisa juga adanya kecacatan pada katup. Kondisi ini bisa terdeteksi pada saat USG selama kehamilan atau mendengarkan detak jantung setelah lahir.

Tidak semua bayi yang lahir dengan cacat jantung bawaan menunjukkan tanda atau gejala, sehingga ada kemungkinan masalah tersebut tidak terdeteksi. Padahal deteksi dini dan cepat bisa menjadi kunci dalam meningkatkan kelangsungan hidup.

"Ini adalah hasil penelitian yang menjanjikan karena sebuah tes cepat dan sederhana bisa membantu mendeteksi cacat jantung bawaan dan membuat perubahan yang nyata," ujar Amy Thompson dari British Heart Foundation.

Minggu, 07 Agustus 2011

, , ,

Sleep Apnea, Apa Itu?



Sleep apnea yang dikenal sebagai henti napas saat tidur, merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebihan. Pada orang dewasa, sleep apnea menjadi penyebab hipertensi, penyakit jantung, diabetes, hingga strokes. Sleep apnea pada anak mengganggu tumbuh kembangnya.

Pada anak yang sedang tidur mendengkur, saat dengkuran menghilang, anak tampak merasa sesak seolah tercekik. Sebenarnya, saat itu yang terjadi adalah penyempitan jalan nafas yang mengakibatkan udara tidak bisa masuk dan keluar. Akibat oksigen yang merosot dan kadar karbondioksida yang banyak, anak akan terbangun disertai suara hentakan keras seolah nafas baru terbebas.

Episode bangun ini disebut episode bangun mikro, karena walau gelombang otak terbangun, tetapi anak tidak terjaga. Ini akan terus berulang sepanjang malam hingga mengganggu kualitas tidur. Akibatnya, kualitas tidur anak akan berkurang dan justru anak akan menjadi lebih aktif secara fisik.

Cukup tidur memang penting untuk bayi dan balita. Saat tidur, otak memproses memori dan pengetahuan baru. Tidak hanya itu, otot, kulit, sistem jantung, pembuluh darah, tulang, dan metabolisme tubuh juga mengalami pertumbuhan pesat saat bayi anda terlelap karena saat tidur, tubuh anak memproduksi hormon pertumbuhan lebih banyak dibanding saat dia terjaga. Anak yang kurang tidur akan rewel karena untuk melawan rasa kantuknya anak justru semakin aktif. Efek samping kurang tidur pada anak berpengaruh pada banyak hal.

Fisik
Karena banyak hormon pertumbuhan dikeluarkan optimal pada saat tidur, maka kurang tidur akibat sleep apnea bisa membuat pertumbuhan fisik anak terganggu.

Kognitif
Tidur mimpi berperan dalam perkembangan kognitif dan emosional anak. Ketika anak bermimpi, kemampuan otaknya berkembang. Tidur mimpi biasanya ditandai dengan gerak cepat bola mata atau REM (Rapid Eye Movement). Anak yang menderita sleep apnea, perkembangan otaknya akan terganggu dan potensi yang seharusnya berkembang akan hilang selamanya.

Gerak
Kondisi kurang tidur pada anak dapat mengganggu perkembangan saraf dan otot-ototnya. Pada anak yang menderita gangguan tidur, gerak motorik kasar lebih berkembang dibanding gerak motorik halusnya.

Mental dan Emosional
Anak yang kurang tidur lebih mudah rewel dan anak, serta tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan orangtuanya.

Selasa, 02 Agustus 2011

, , ,

Susah Buang Air Besar Pada Bayi


Pola buang air besar pada bayi memang berubah-ubah. Nah bagaimana Anda bisa tahu bahwa pola buang air besar pada bayi Anda masih tergolong normal?

Pola Buang Air Besar Bayi Pada Umumnya

Untuk bayi yang baru lahir, normalnya ia akan buang air besar hingga sebanyak 4 kali setiap hari. Ini akan berlangsung sampai ia berusia 7 hari. Untuk anak berusia 2 tahun, termasuk normal jika ia dapat buang air besar (BAB) 1-2 kali tiap harinya. Anak usia 4 tahun sudah sama pola BAB-nya dengan orang dewasa – 1 kali setiap hari.

Nah, karena tidak setiap anak memiliki pola yang persis sama, maka umumnya seorang bayi atau anak akan dianggap mengalami sembelit, jika ia tidak BAB hingga 2 minggu atau lebih.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir jika melihat bayi Anda sepertinya berjuang keras, bahkan terkadang sampai memerah ketika sedang BAB, padahal terkadang fesesnya encer dan tidak keras. Dia kan masih belajar! Anda juga harus ingat… bayi Anda melakukan BAB sambil berbaring lho, tidak seperti orang dewasa… Jadi, reaksi-reaksi seperti ini masih tergolong normal.

Kapan Situasinya Menjadi Gawat?

Jika Anda mendapati bayi Anda mengalami kondisi seperti berikut ini, maka segeralah periksakan ke dokter:

1. Feses/kotoran yang keras
2. Demam
3. Terdapat darah pada kotorannya
4. Berat badannya sulit naik
5. Gagal BAB untuk pertama kalinya dalam 24 jam setelah kelahiran

Bayi dalam Periode ASI Eksklusif

Jika bayi Anda masih dalam periode ASI eksklusif -alias belum memperoleh asupan selain ASI- maka masih tergolong normal jika ia tidak BAB hingga 1 minggu. Bahkan terkadang setelah 1 minggu pun fesesnya sama sekali tidak keras.

Hal ini disebabkan oleh ASI yang masih sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi Anda dan ini juga berarti sebagian besar ASI dapat diserap dengan baik oleh tubuhnya.

Senin, 01 Agustus 2011

, , , , , ,

11 Penyakit yang Sering Dialami Bayi di Tahun Pertamanya



Inilah 11 penyakit yang sering dialami bayi di tahun pertamanya. Kenali agar ibu tidak mudah panik ketika bayi tiba-tiba sakit, namun tetap waspada.

1. Apnea (tidak bernapas spontan). Apnea merupakan penyakit dimana seseorang tidak bernapas selama beberapa detik secara spontan ketika tidur. Tidak hanya orang dewasa, bayi yang baru lahir dan khususnya bayi prematur pun bisa mengalami apnea.

2. Sesak napas. Bayi yang mengalami sesak napas akan mengalami kesulitan saat menarik napas, atau napas bayi berbunyi disertai batuk. Waspada jika wajah bayi menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.

3. Ruam popok. Ruam popok merupakan penyakit yang membuat kulit bayi iritasi. Biasanya iritasi ini disebabkan karena pemakaian popok yang tidak benar.

4. Kuning (jaundice). Penyakit kuning ini biasanya membuat kulit dan mata bayi berwarna kuning. Sampai batas-batas tertentu, penyakit ini tidak berbahaya, tapi ibu perlu waspada jika kuning pada bayi tidak kunjung hilang.

5. Eksim susu (dermatitis atopi). Eksim susu merupakan salah satu masalah kulit paling umum ditemukan pada bayi. Mitosnya, dinamakan eksim susu karena ASI yang mengenai kulit di sekitar mulut bayi yang menyebabkan bercak merah. Benarkah?

6. Batuk pilek. Virus bisa menjadi penyebab penyakit ini menyerang bayi. Segera bawa ke dokter jika bayi batuk pilek hingga kemampuan minumnya berkurang, atau tidak sembuh lebih dari seminggu.

7. Infeksi saluran napas. Infeksi saluran napas merupakan segala bentuk infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas (ISPA). Tak jarang juga saluran pernapasan bawah. Infeksi saluran napas ini bisa saja terjadi pada bayi baru lahir (newborn).

8. Infeksi telinga tengah. Infeksi telinga tengah menyerang salah satu bagian telinga, yaitu telinga bagian tengah atau daerah sekitar gendang telinga.

9. Sembelit. Biasanya terjadi karena bayi kekurangan cairan atau akibat perubahan makanan dan dimulainya pemberian makanan padat pertama. Waspada jika sembelit masih terjadi sampai lebih dari satu bulan.

10. Muntah. Muntah bisa terjadi karena bayi kekenyangan, terlalu banyak udara dalam lambung, dan sebagainya. Waspada bila bayi terus menerus muntah tanpa henti.

11. Diare. Virus yang biasa disebut rotavirus seringkali menjadi penyebab diare, di samping penyebab-penyebab lainnya. Ibu harus waspada jika diare disertai darah.

Minggu, 24 Juli 2011

, ,

Curigai Bayi yang Kuning Lebih dari 2 Minggu


Bayi yang dilahirkan dengan kulit menguning biasanya akan normal dengan cara dijemur. Tapi jika bayi kuning tak kunjung hilang hingga 2 minggu meskipun sudah dijemur, kondisi ini bisa dicurigai sebagai atresia bilier.

Atresia bilier adalah penyakit pada bayi yang menyebabkan saluran empedu menjadi buntu, hal ini membuat hati tidak mampu mengalirkan empedu ke dalam usus 12 jari. Akibatnya empedu akan terbendung di dalam hati dan menyebabkan kerusakan hati yang dapat berujung pada gagal hati. Gejala ini sudah dapat terlihat sebelum bayi berusia 1 tahun.

Bayi dengan atresia bilier akan memiliki kulit dan mata yang menguning. Pada awalnya warna kulit tidak terlalu mencolok, sehingga sering diabaikan dan hanya dijemur-jemur saja. Tapi jika sudah 2 minggu masih tetap kuning, perlu dicurigai sebagai atresia bilier.

“Jangan biarkan bayi kuning lebih dari usia 2 minggu dan jangan terus menjemur, tapi segeralah bawa ke tenaga medis, dokter atau rumah sakit,” ujar DR Dr Hanifah Oswari, SpA(K) dalam acara peresmian Yayasan Bilqis Sehati di gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (16/9/2010).

Gejala lain yang muncul atau cukup mencolok adalah bayi memiliki urine berwarna pekat dan juga warna tinjanya yang pucat atau putih (seperti dempul). Hal ini disebabkan penderita atresia bilier tidak memiliki empedu, karena warna tinja ditentukan oleh adanya empedu (bilirubin) dalam tinja.

Dr Hanifah menuturkan bayi dengan atresia bilier bila tidak ditangani akan mengalami kerusakan hati yang berat (sirosis hati) dalam waktu 2 bulan saja. Kerusakan ini akan sangat hebat dan cepat, sehingga bayi atresia bilier yang tidak mendapatkan pertolongan medis pada umumnya akan meninggal di usia 1-2 tahun.

Atresia bilier terjadi pada 1 banding 10.000 sampai 15.000 bayi lahir hidup. Jika angka kelahiran hidup di Indonesia mencapai 4,5 juta per tahun, maka diprediksi bayi yang menderita atresia bilier mencapai 300-450 bayi setiap tahun.

“Di Jakarta sendiri diperkirakan setiap tahunnya ada 23 bayi yang menderita atresia bilier, tapi kemungkinan jumlahnya lebih besar dari itu karena ada juga yang tidak sampai ke rumah sakit,” ungkap konsultan gastroenterologi-hepatologi anak FKUI/RSCM.

Dr Hanifah menambahkan hingga saat ini para ahli dari seluruh dunia masih mencari tahu apa penyebab dari atresia bilier ini, karena beberapa bayi ada yang dilahirkan bagus tapi lama kelamaan terjadi gangguan di saluran empedunya.

“Atresia bilier adalah satu-satunya penyakit hati yang bisa menyebabkan sirosis hati pada anak dengan sangat cepat, karena pada usia bayi 2 bulan sudah terlihat tanda-tanda sirosis. Karena itu lakukan kontrol pertama saat bayi berusia 2 minggu dan saat imunisasi, sehingga atresia bilier bisa dideteksi lebih dini,” ujar dokter yang berpraktik di RSCM ini.